I. PRINSIP DASAR SISTEM HIDROLIK.
Dalam sistem hidrolik fluida cair berfungsi sebagai penerus gaya. Minyak mineral adalah jenis fluida cair yang umum dipakai.
Sifat dari zat cair :
- Tidak mempunyai bentuk yang tetap, selalu menyesuaikan bentuk yang ditempatinya.
- Zat cair tidak dapat dikompresi.
- Meneruskan tekanan ke segala arah.
Hidrolik dapat dinyatakan sebagai alat yang memindahkan tenaga dengan mendorong sejumlah cairan tertentu. Komponen pembangkit aliran fluida bertekanan disebut pompa, dan komponen pengubah tekanan hidrolik menjadi gerak mekanik (lurus/rotasi) disebut elemen kerja (silinder/motor hidroulik).
Keuntungan-keuntungan sistem hidrolik :
- Fleksibel dalam penempatan komponen transmisi tenaga.
- Gaya yang sangat kecil dapat digunakan untuk mengangkut gaya yang besar.
- Penerus gaya (oli) juga berfungsi sebagai pelumas.
- Beban dengan mudah bisa dikontrol dengan menggunakan katup pengatur tekanan (relief valve).
- Dapat dioperasikan pada kecepatan yang berubah-ubah.
- Arah operasi dapat dibalik seketika.
- Lebih aman jika beroperasi pada beban berlebih.
- Tenaga dapat disimpan dalam akumulator.
Kelemahan sistem hidrolik :
Sistem hidrolik membutuhkan suatu lingkungan yang betul-betul bersih. Komponen-komponennya sangat peka terhadap kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh debu, korosi dan kotoran-kotoran lain, serta panas yang mempengaruhi sifat-sifat minyak hidrolik.
II. PERSAMAAN / RUMUS DASAR.
Tekanan adalah gaya per-satuan luas penampang.
Dalam persamaan dinyatakan dengan :
P= ; dimana P = Pressure/ Tekanan (Pascal).
F = Force/gaya (Newton).
A = Area/luas (Meter 2)
Kapasitas adalah jumlah aliran per-satuan waktu.
Dalam persamaan dinyatakan dengan :
Q = ; dimana Q = Kapasitas/Debit (M3/dt).
V = Volume Fluida (M3).
t = Waktu (dt).
Atau ; Q = A x V ; dimana A = Luas (Meter 2).
V = Kecepatan Fluida (M/dt).
Persamaan Boyle :
P1 x V1 = P2 x V2 ; dimana P = Tekanan
V = Volume
Persamaan Kontinuitas :
Q1 = Q2 A1 x V1 = A2 x V2
Konversi satuan :
- 1 Pascal = 1 Newton/ Meter2 (Pa = N/M2)
- 1 Bar = 105 Pa = 100 kPa
= 14.7 Psi (Lbf/ in2)
= 1 Kgf/ Cm2
- 1 M3/dt = 60 M3/menit
- 1 M3/menit = 1000 LPM (liter/menit).
Contoh :
Dua buah bejana yang berhubungan, Gaya pada bejana 1 (F1) = 1000 N.
Diameter bejana 1 (d1) = 10 Cm2
Diameter bejana 2 (d2) = 40 Cm2
Gaya pada bejana 2 (F2) = ………….. ?
Penyelesaian :
- Pada Bejana 1 :
Tekanan 1 (P1) =
F1 = 200 N
A1 = ; d1 = 10 Cm2 = 10 x 10-2 m2
= 0,1 m
A1 = = 7,85 x 10-3 m2
P1 = = = 127,388 x 103 N/m2
= 1,27388 x 105 N/m2
= 1,27388 x 105 Pascal = 1,27388 Bar
- Pada bejana 2 :
Menurut hukum pascal ‘Tekanan pada suatu bejana tertutup akan diteruskan kesegala arah dengan besar yang sama’.
- Tekanan di bejana 1 (dari perhitungan) = 1,27388 N/m2
- Sesuai dengan hukum pascal maka tekanan pada bejana 2 akan sama dengan tekanan pada bejana 1.
- Tekanan pada bejana 2 (P2) = P1 = 1,27388 x 105 N/m2.
- Gaya pada bejana2 (F2)
P2 = ; maka F2 = P2 x A2
P2 = 1,27388 x 105 N/m2
A2 = d2 = 40 Cm = 40 x 10-2 m2
= 0,4 m2
A2 = = 0,1256 m2
F2 = P2 x A2
= 1,27388 x 105 N/m2 x 0,1256 m2
= 16.000 N
Jadi dengan menggunakan Prinsip Hidrolik dapat disimpulkan bahwa dengan gaya yang kecil F1 (1000N) dapat dihasilkan gaya yang jauh lebih besar F2 (16000 N).
III. FLUIDA HIDROLIK.
Fungsi fluida hidrolik :
- Sebagai pemindah/penerus gaya.
- Pelumas bagian-bagian yang bergesekan.
- Pengisi celah (seal) jarak antara dua bidang yang melakukan gesekan.
- Sebagai pendingin atau penyerap panas yang timbul akibat gesekan.
Syarat fluida hidrolik :
- Mampu mencegah korosi atau kontaminasi.
- Mampu mencegah adanya pembentukan endapan.
- Tidak mudah membentuk buih-buih oli.
- Stabil & mampu menjaga nilai kekentalan.
- Dapat memisahkan kandungan air.
- Sesuai atau cocok dengan penyekat/seal dan gasket yang dipakai pada komponen.
Hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam pemilihan fluida hidrolik adalah “Viscositas”, karena viscositas akan mempengaruhi kemampuan untuk mengalir dan melumasi bagian-bagian yang bergesakan. Viscositas fluida hidrolik dinyatakan dengan Nilai Viscositas.
Dalam pemilihan nilai viscositas oli sebaiknya mengacu pada manufactur pompa / sistem hidrolik agar sistem bekerja secara optimal.
Viscositas oli yag tinggi memberikan pengisian yang baik antara celah (gap) dari pompa, valve & motor hidrolik, tetapi jika nilai viscositas terlalu tinggi akan mengakibatkan :
- Hambatan yang besar sehingga menyebabkan seretnya gesekan elemen penggerak (actuator) dan kavitasi pompa (udara masuk ke pompa).
- Pemakaian tenaga bertambah, karena kerugian gesekan.
- Penurunan tekanan bertambah melalui saluran-saluran dan katup-katup.
Jika viscositas oli terlalu rendah, akan mengakibatkan :
- Kerugian-kerugian kebocoran dalam yang berlebihan.
- Aus berlebihan oleh karena pelumasan tidak mencukupi pada pompa dan motor.
- Menurunkan efisiensi motor dan pompa.
- Suhu oli naik atau bertambah karena kerugian-kerugian kebocoran bagian dalam.
Nilai viscositas oli dinyatakan dengan :
Viscositas absolut : Poise atau Centipoise (Cp).
Viscositas kinematik : Centistoke (Cst).
Viscositas relatif : SUS (Saybolt Universal Second).
Angka koefisien Society of Automotive Engineer (SAE).
Derajat engler (oE)
Dalam Standard Internasional (SI) nilai viscositas dinyatakan dengan viscositas kinematik (Cst).
Contoh : ISO VG 68 -- mempunyai nilai viscositas sebesar 68 Cst pada temperature 40oC.
IV. PRESSURE REGULATING VALVE
( KATUP PENGATUR TEKANAN )
Pressure regulating valve digunakan untuk mengatur tekanan sistem atau subsistem suatu rangkaian hidrolik. Ada beberapa jenis valve tersebut yang mana fungsi dari valve tersebut didalam rangkaian dijadikan dasar untuk penamaannya.
Beberapa Valve yang digolongkan dalam rressure regulating valve adalah Pressure relief valve (Katup pelepas/pengaman tekanan), Pressure reducing valve (Katup penurun tekanan). Unloading valve, Offloanding valve, Counter balance valve dan Sequence valve
a. Pressure Relief Valve
- Digunakan untuk mengatasi tekanan maksimum sistem dalam rangkaian atau sub rangkaian, dengan demikian akan memberikan perlindungan terhadap beban berlebih.
- Simbol
valve NC
b. Pressure Reducing Valve
- Digunakan untuk mengurangi atau menurunkan batas-batas tekanan dari rangkaian utama ke tekanan yang lebih rendah pada suatu sub rangkaian.
- Simbol
c. Unloading Valve
- Digunakan untuk menyediakan arah balik aliran pompa ke tanki, sementara sistem harus dipertahankan (sistem unloading).
Disebut juga katup pengisi akumulator.
- Simbol.
d. Offloading Valve
- Digunakan untuk menyediakan arah balik aliran pompa ke tangki sementara tekanan sistem tidak dipertahankan (sistem off loading).
- Simbol
e. Counter Balance Valve
- Untuk memberikan perlawanan aliran fluida pada saat batas-batas tekanan yang dapat dipilih (gaya pengimbang).
- Simbol
f. Sequence Valve
- Digunakan untuk menimbulkan gerakan dalam suatu sistem dalam suatu urutan-urutan tertentu dan untuk menjaga tekanan minimum yang ditentukan sebelumnya dalam saluran primer sementara operasi sekunder tetap berlangsung.
- Simbol
V. KATUP PENGARAH.
(DIRECTIONAL VALVE)
Katup pengarah pada khususnya seperti yang dinyatakan dalam namanya adalah mengatur arah aliran fluida. Katup-katup ini dipakai dalam rangkaian-rangkaian hidrolik untuk memberikan fungsi-fungsi kontrol, seperti :
Mengatur arah gerakan elemen penggerak.
Memilih rangkaian-rangkaian kontrol alternatif.
Melakukan fungsi kontrol logika.
Simbol-simbol yang digunakan untuk mewakili katup dalam diagram rangkaian hanya ditentukan oleh fungsi katup, dan bukan dinyatakan dalam prinsip rancangan pada konstruksi katup.
Posisi pemindahan katup diwakili atau dinyatakan oleh segiempat.
Jumlah segiempat yang berdekatan menunjukkan banyaknya posisi pemindahan yang dipunyai katup, gambar samping menunjukkan dua posisi.
Fungsi dan prinsip kerja digambarkan di dalam kotak segiempat. Garis menunjukkan jalannya aliran fluida, dan anak panah menunjukkan arah daripada alirannya. Pada gambar menunjukkan arah aliran naik.
Posisi menutup dinyatakan dalam kotak segiempat oleh garis siku-siku (simbol hurup – T).
Pertemuan lubang aliran dinyatakan oleh suatu titik.
Lubang-lubang saluran (saluran masuk dan keluar) ditunjukkan oleh garis yang tergambar pada bagian luar kotak segiempat, menunjukkan posisi normal atau posisi awal juga banyaknya lubang saluran, dalam gambar menunjukkan empat saluran.
Posisi yang lain diperoleh dengan menggeser kotak segiempat itu sampai lubang aliran (saluran) bertemu dan sesuai dengan sambungan-sambungannya.
Katup dengan tiga posisi pemindahan, posisi tengah = posisi netral, posisi dinyatakan oleh huruf-huruf a, b dan 0.
Untuk menjamin bahwa katup terpasang dengan tepat, sambungan-sambungannya dinyatakan dengan huruf-huruf besar (romawi).
Saluran kerja A, B, C ……
Sambungan tenaga P ……………
Pembuangan (ke reservoar) T ……………
Saluran-saluran kontrol X, Y, Z ……
Dari dasar-dasar pembacaan simbol katup pengarah di muka dapat dikembangkan menjadi jenis-jenis katup pengarah yang banyak digunakan dalam rangkaian hidrolik. Dan dalam keterangan atau pemberian nama katup misalnya hanya disebutkan katup 4/2-way.
Contoh : Katup 4/3 – way, adalah 4 saluran sambungan , 3 posisi pemindahan (3 segiempat).
Katup 3/2 – way, adalah 3 saluran sambungan, 2 posisi pemindahan (2 segiempat).
Kotak segiempat 1, 2, 3 menunjukkan posisi pemindahan.
- P, A, B, T menunjukkan saluran.
- X,Y merupakan saluran pemandu (Hydraulik).
Katup Posisi Normal Menutup Atau Membuka :
Dalam rangkaian hidraulik sering digunakan istilah katup posisi normal membuka (Normaly Open / NO) atau katup posisi normal menutup (Normaly Close / NC). Istilah – istilah tersebut sering digunakan pada katup dengan tiga lubang saluran.
- Katup Posisi Normal Menutup (Normaly Close / NC).
Katup yang ditunjukkan pada gambar berikut adalah katup 2 posisi dengan 3 (tiga) lubang saluran
Katup yang ditunjukkan pada gambar tersebut adalah katup dua posisi dengan tiga lubang saluran, dimana pada posisi normal (gaya penekanan pegas) tidak memberi kesempatan aliran dari lubang tekanan P ke lubang saluran ke luar A.
- Katup Posisi Normal Membuka (Normaly Open / NO).
Dalam hal katup posisi normal membuka seperti gambar berikut saluran tekanan P diberi kesempatan untuk mengalir ke lubang saluran ke luar A, sementara katup berada dalam posisi normalnya.
Prinsip Kerja Katup Pengarah
Pada posisi normal (netral) semua saluran tertutup, sedangkan pada handel digerakkan maju saluran P terhubung dengan saluran A dan saluran B terhubug dengan saluran T, sedangkan jika handel digerakkkan mundur saluran P terhubung dengan saluran B dan saluran A terhubung saluran T.
Penggerak Katup
Katup dapat digerakkan oleh lima dasar metode yaitu dengan tenaga manusia, secara mekanik, secara elektrik, secara hidrolik, atau secara pnematik.
Aplikasi dalam mesin menggunakan beberapa dari apa yang disebutkan di muka, atau bahkan dengan kombinasi dari beberapa penggerak untuk memperoleh sistem pengontrolan yang optimum. Metode pengontrolan tenaga manusia menggunakan gerakan tangan atau kaki seperti tuas, tombol tekan, knop dan pedal kaki.
Berikut adalah beberapa simbul hidrolik penggerak katup, simbol hidrolik yang lainnya dapat dilihat pada lampiran.
Tuas Pedal Pegas Pemandu Hidrolik Solenoid
VI. POMPA HIDROLIK, ELEMEN PENGGERAK DAN AKUMULATOR
POMPA HIDROLIK
Fungsi daripada Pompa adalah untuk mengubah energi mekanik menjadi energi hidrolik dengan cara menekan fluida hidrolik ke dalam system.
Dalam system hidrolik pompa merupakan suatu alat untuk menimbulkan atau membangkitkan aliran fluida (untuk memindahkan sejumlah volume fluida) dan untuk memberikan gaya sebagaimana diperlukan
Pompa adalah pembangkit aliran bukannya tekanan.
Sering kali dianggap bahwa pompa adalah pembangkit tekanan fluida, tetapi sebenarnya tujuan utama pemakaian pompa hidrolik adalah untuk memproduksi aliran. Sedang tekanan adalah gaya persatuan luas dan ditimbulkan oleh adanya hambatan untuk mengalir.
Dilihat dari segi volume pemindahan yang dihasilkan, pompa hidrolik dibedakan menjadi dua bagian pula, yaitu :
• Pompa pemindahan tetap (fixed).
• Pompa pemindahan berubah – ubah (variable).
Pada pompa pemindahan tetap, pompa akan menggerakkan atau memindahkan sejumlah volume oil yang sama dalam setiap putaran (cycle). Volume ini hanya akan berubah apabila kecepatan putar pompa (rpm) juga diubah.
Pompa dengan pemindahan tetap biasa ditemukan dalam sistem tekanan lebih rendah atau sebagai pembantu pompa yang lain dalam suatu sistem tekanan yang lebih tinggi. Pada pompa dengan pemindahan tidak tetap (variable) dapat memberikan volume pemindahan olinya bervariasi dalam setiap putaran, bahkan pada kecepatan putaran yang sama sekalipun.
Sedangkan jika dilihat dari jenisnya pompa hirdlolik dapat dibedakan menjadi tiga yaitu roda gigi, pompa sudu-sudu , dan pompa torak.
Minggu, 17 April 2011
Minggu, 10 April 2011
MESIN PERKAKAS
Mesin BubutBubut merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang sayatannya dilakukan dengan cara memutar benda kerja kemudian dikenakan pada pahat yang digerakkan secara translasi sejajar dengan sumbu putar dari benda kerja. Gerakan putar dari benda kerja disebut gerak potong relatif dan gerakkan translasi dari pahat disebut gerak umpan (feeding).
Dengan mengatur perbandingan kecepatan rotasi benda kerja dan kecepatan translasi pahat maka akan diperoleh berbagai macam ulir dengan ukuran kisar yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengna jalan menukar roda gigi translasi (change gears) yang menghubungkan poros spindel dengan poros ulir (lead screw).
Roda gigi penukar disediakan secara khusus untuk memenuhi keperluan pembuatan ulir. Jumlah gigi pada masing-masing roda gigi penukar bervariasi besarnya mulai dari jumlah 15 sampai dengan jumlah gigi maksimum 127. roda gigi penukar dengan jumlah 127 mempunyai ke khususan karena digunakan untuk monversi dari ulir metrik ke ulir inchi.
• Prinsip Kerja Mesin Bubut
Poros spindel akan memutar benda kerja melalui piringan pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan yang berbentuk ulir.
• Bagian-Bagian Mesin Bubut
Mesin bubut terdiri dari meja (bed) dan kepala tetap (head stock). Di dalam kepala tetap terdapat roda-roda gigi transmisi penukar putaran yang akan memutar poros spindel. Poros spindel akan menmutar benda kerja melalui cekal (chuck). Eretan utama (appron) akan bergerak sepanjang meja sambil membawa eretan lintang (cross slide) dan eretan atas (upper cross slide) dan dudukan pahat. Sumber utama dari semua gerakkan tersebut berasal dari motor listrik untuk memutar pulley melalui sabuk (belt).
![]() |
| Add caption |
Torak
Fungsi torak :• Menghisap, mengkompresi gas baru dan membuang gas bekas
• Merubah tekanan hasil pembakaran menjadi gaya dorong pada batang torak
• Mengatur pemasukan dan pembuangan gas pada motor 2 tak
Pembebanan torak :
• Menerima tekanan dan temperatur gas pembakaran yang tinggi
• Menerima gaya percepatan yang tinggi
• Menerima gaya gesek dan gaya samping
Bahan dan pembuatan torak
Peryaratan bahan torak
Melihat fungsi dan pembebanan torak, maka dituntut persyaratan a . l :
• Kuat terhadap tekanan tinggi
• Tahan terhadap temperatur tinggi
• Tahan terhadap keausan dan mempunyai sifat luncur yang baik
• Mempunyai koefisien muai panas kecil
Macam – macam paduan
Bahan yang umumnya dipakai untuk torak adalah aluminium karena sifatnya ringan. Tetapi aluminium murni terlalu lembek dan mempunyai ketahanan kecil terhadap pemuaian / gesekan.
Untuk memenuhi persyaratan yang diinginkan, maka aluminium harus dicampur dengan logam lain.
• Paduan Al – Si Si 12 – 25 %
• Paduan Al – Cu Cu 5% si < 1%
• Paduan Al – Si - Cu Si & Cu masing-masing 5%
• Paduan Al – Ni Ni 25%
Keterangan :
• Silikon ( Si ) : makin tinggi kadar Si, makin kecil muai panas dan gesekan. Tetapi makin sulit pengerjaan/pembuatannya.
• Tembaga ( Cu ) : Tahan terhadap karat dan kemampuan memindahkan panas baik.
• Nikel ( Ni ) : Memiliki kekenyalan yang tinggi, tahan terhadap temperatur tinggi, muai panas kecil dan tahan terhadap karat.
Pembuatan torak
Penuangan yang dikuti pendinginan secara cepat
Paling umum, paling murah, juga dipakai pada penuangan torak dengan bentuk yang rumit
Pencetakan dengan tekan
Memerlukan paduan khusus, menghasilkan torak dengan kekuatan dan ketahanan terhadap temperatur lebih baik. Bentuk torak harus sederhana, supaya mal cetak dapat dikeluarkan lagi dari bagian dalam torak. Hanya dipergunakan untuk motor berprestasi tinggi ( Diesel – turbo )
Perbaikan permukaan luar torak
1. Pinggang torak
Untuk memperoleh sifat luncur yang baik, pinggang torak sering dilapisi, misalnya dengan timah, grafit ( karbon ) atau molybden
2. Puncak torak
Untuk mengurangi penyerapan panas dan untuk mempertinggi ketahanan terhadap panas, permukaan puncak torak sering dieloxasi. Eloxasi adalah perlakuan kimia yang mempertebal lapisan alumuniumoxid yang sudah terdapat secara alami pada semua bagian luar aluminium. Alumuniumoxid mempunyai titik lebur yang tinggi dari pada campuran aluminium dasar, sedangkan sifat hantar panas berkurang.
• Merubah tekanan hasil pembakaran menjadi gaya dorong pada batang torak
• Mengatur pemasukan dan pembuangan gas pada motor 2 tak
Pembebanan torak :
• Menerima tekanan dan temperatur gas pembakaran yang tinggi
• Menerima gaya percepatan yang tinggi
• Menerima gaya gesek dan gaya samping
Bahan dan pembuatan torak
Peryaratan bahan torak
Melihat fungsi dan pembebanan torak, maka dituntut persyaratan a . l :
• Kuat terhadap tekanan tinggi
• Tahan terhadap temperatur tinggi
• Tahan terhadap keausan dan mempunyai sifat luncur yang baik
• Mempunyai koefisien muai panas kecil
Macam – macam paduan
Bahan yang umumnya dipakai untuk torak adalah aluminium karena sifatnya ringan. Tetapi aluminium murni terlalu lembek dan mempunyai ketahanan kecil terhadap pemuaian / gesekan.
Untuk memenuhi persyaratan yang diinginkan, maka aluminium harus dicampur dengan logam lain.
• Paduan Al – Si Si 12 – 25 %
• Paduan Al – Cu Cu 5% si < 1%
• Paduan Al – Si - Cu Si & Cu masing-masing 5%
• Paduan Al – Ni Ni 25%
Keterangan :
• Silikon ( Si ) : makin tinggi kadar Si, makin kecil muai panas dan gesekan. Tetapi makin sulit pengerjaan/pembuatannya.
• Tembaga ( Cu ) : Tahan terhadap karat dan kemampuan memindahkan panas baik.
• Nikel ( Ni ) : Memiliki kekenyalan yang tinggi, tahan terhadap temperatur tinggi, muai panas kecil dan tahan terhadap karat.
Pembuatan torak
Penuangan yang dikuti pendinginan secara cepat
Paling umum, paling murah, juga dipakai pada penuangan torak dengan bentuk yang rumit
Pencetakan dengan tekan
Memerlukan paduan khusus, menghasilkan torak dengan kekuatan dan ketahanan terhadap temperatur lebih baik. Bentuk torak harus sederhana, supaya mal cetak dapat dikeluarkan lagi dari bagian dalam torak. Hanya dipergunakan untuk motor berprestasi tinggi ( Diesel – turbo )
Perbaikan permukaan luar torak
1. Pinggang torak
Untuk memperoleh sifat luncur yang baik, pinggang torak sering dilapisi, misalnya dengan timah, grafit ( karbon ) atau molybden
2. Puncak torak
Untuk mengurangi penyerapan panas dan untuk mempertinggi ketahanan terhadap panas, permukaan puncak torak sering dieloxasi. Eloxasi adalah perlakuan kimia yang mempertebal lapisan alumuniumoxid yang sudah terdapat secara alami pada semua bagian luar aluminium. Alumuniumoxid mempunyai titik lebur yang tinggi dari pada campuran aluminium dasar, sedangkan sifat hantar panas berkurang.
Minggu, 20 Maret 2011
soe hok gie dan soe hok djin (arief budiman)
Ada dua hal yang membuat saya sulit untuk menulis tentang almarhum adik saya, Soe Hok Gie. Pertama, karena terlalu banyak yang mau saya katakan, sehingga saya pasti akan merasa kecewa kalau saya menulis tentang dia pada pengantar buku ini. Kedua, karena bagaimanapun juga, saya tidak akan dapat menceritakan tentang diri adik saya secara obyektif. Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya. Karena itu, untuk pengantar buku ini, saya hanya ingin menceritakan suatu peristiwa yang berhubungan dengan diri almarhum, yang mempengaruhi pula hidup saya dan saya harap, hidup orang-orang lain juga yang membaca buku ini.
Saya ingat, sebelum dia meninggal pada bulan Desember 1969, ada satu hal yang pernah dia bicarakan dengan saya. Dia berkata, “Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan yang sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”.
Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibu dia cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti”.
Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.
Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.
Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.
Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.
Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, “untuk siapa peti mati ini?” Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.
Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?
Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang?
Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.
Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.
Arief Budiman (Soe Hok Djin)
(seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993)
Saya tahu, mengapa dia berkata begitu. Dia menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang-kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat-surat kaleng yang antara lain memaki-maki dia sebagai “Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibu saya sering gelisah dan berkata: “Gie, untuk apa semuanya ini. Kamu hanya mencari musuh saja, tidak mendapat uang”. Terhadap ibu dia cuma tersenyum dan berkata “Ah, mama tidak mengerti”.
Kemudian, dia juga jatuh cinta dengan seorang gadis. Tapi orangtuanya tidak setuju – mereka selalu dihalangi untuk bertemu. Orangtua gadis itu adalah seorang pedagang yang cukup kaya dan Hok Gie sudah beberapa kali bicara dengan dia. Kepada saya, Hok Gie berkata: “Kadang-kadang, saya merasa sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya si., saya merasa dia sangat menghargai saya. Bahkan dia mengagumi keberanian saya tanpa tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti akan menolak. Terlalu besar risikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya tanpa mau terlibat dengan diri saya”.
Karena itu, ketika seorang temannya dari Amerika menulis kepadanya: “Gie seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, Selalu. Mula-mula, kau membantu menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini, kalau kau mau bertahan sebagai seorang intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian, penderitaan”. Surat ini dia tunjukkan kepada saya. Dari wajahnya saya lihat dia seakan mau berkata: Ya, saya siap.
Dalam suasana yang seperti inilah dia meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang dia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil mahasiswa yang duduk di parlemen, dengan ucapan supaya mereka bisa berdandan dan dengan begitu akan tambah cantik di muka penguasa. Suatu tindakan yang membuat dia tambah terpencil lagi, kali ini dengan beberapa teman-teman mahasiswa yang dulu sama-sama turun ke jalanan pada tahun 1966.
Ketika dia tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, dia memang ada di suatu tempat yang terpencil dan dingin. Hanya seorang yang mendampinginya, salah seorang sahabatnya yang sangat karib. Herman Lantang. Suasana ini juga yang ada, ketika saya berdiri menghadapi jenazahnya di tengah malam yang dingin, di rumah lurah sebuah desa di kaki Gunung Semeru. Jenazah tersebut dibungkus oleh plastik dan kedua ujungnya diikat dengan tali, digantungkan pada sebatang kayu yang panjang, Kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan dia tampak tenang. Saya berpikir: “Tentunya sepi dan dingin terbungkus dalam plastik itu”. Ketika jenazah dimandikan di rumah sakit Malang, pertanyaan yang muncul di dalam diri saya alah apakah hidupnya sia-sia saja? Jawabannya saya dapatkan sebelum saya tiba kembali di Jakarta.
Saya sedang duduk ketika seorang teman yang memesan peti mati pulang. Dia tanya, apakah saya punya keluarga di Malang? Saya jawab “Tidak. Mengapa?” Dia cerita, tukang peti mati, ketika dia ke sana bertanya, “untuk siapa peti mati ini?” Teman saya menyebut nama Soe Hok Gie dan si tukang peti mati tampak agak terkejut. “Soe Hok Gie yang suka menulis di koran?” Dia bertanya. Teman saya mengiyakan. Tiba-tiba, si tukang peti mati menangis. Sekarang giliran teman saya yang terkejut. Dia berusaha bertanya, mengapa si tukang peti mati menangis, tapi yang ditanya terus menangis dan hanya menjawab “Dia orang berani. Sayang dia meninggal”.
Jenazah dibawa oleh pesawat terbang AURI, dari Malang mampir Yogya dan kemudian ke Jakarta. Ketika di Yogya, kami turun dari pesawat dan duduk-duduk di lapangan rumput. Pilot yang mengemudikan pesawat tersebut duduk bersama kami. Kami bercakap-cakap. Kemudian bertanya, apakah benar jenazah yang dibawa adalah jenazah Soe Hok Gie. Saya membenarkan. Dia kemudian berkata: “Saya kenal namanya. Saya senang membaca karangan-karangannya. Sayang sekali dia meninggal. Dia mungkin bisa berbuat lebih banyak, kalau dia hidup terus”. Saya memandang ke arah cakrawala yang membatasi lapangan terbang ini dan hayalan saya mencoba menembus ruang hampa yang ada di balik awan sana. Apakah suara yang perlahan dari penerbang AURI ini bergema juga di ruang hampa tersebut?
Saya tahu, di mana Soe Hok Gie menulis karangan-karangannya. Di rumah di Jalan Kebon jeruk, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram, karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, seringkali masih terdengar suara mesin tik dari kamar belakang Soe Hok Gie, di kamar yang suram dan banyak nyamuk itu, sendirian, sedang mengetik membuat karangannya. Pernahkan dia membayangkan bahwa karangan tersebut akan dibaca oleh seorang penerbang AURI atau oleh seorang tukang peti mati di Malang?
Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan pelbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hatinya.
Saya terbangun dari lamunan saya ketika saya dipanggil naik pesawat terbang. Kami segera akan berangkat lagi. Saya berdiri kembali di samping peti matinya. Di dalam hati saya berbisik “Gie, kamu tidak sendirian”. Saya tak tahu apakah Hok Gie mendengar atau tidak apa yang saya katakan itu. Suara pesawat terbang mengaum terlalu keras.
Arief Budiman (Soe Hok Djin)
(seperti dimuat dalam buku Catatan Seorang Demonstran edisi 1993)
Tentang kata soe hok gie
8 Februari 1958
Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau
10 Desember 1959
Siang tadi, aku bertemu dengan seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga. Rupanya ia kelaparan. Inilah salah-satu gejala yang nampak di ibu kota.
Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-ketawa, makan-makan dengan istrinya yang cantik. Dan kalau melihat gejala pemakan kulit itu, alangkah bangga hatiku. “Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua. Kita lah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.”
“Aku besertamu, orang-orang malang.” Indonesia sekarang turun, turun dan selama tantang sejarah belum dapat dijawabnya, ia akan hancur. “Tanahku yang malang.” Harga barang membumbung semua makin payah. Gerombolan meneror. Tentara meneror. Semua menjadi teror.
Cuma pada kebenaran masih kita harapkan. Dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu.
27 Mei 1960
“Aku besertamu, orang-orang malang.” Indonesia sekarang turun, turun dan selama tantang sejarah belum dapat dijawabnya, ia akan hancur. “Tanahku yang malang.” Harga barang membumbung semua makin payah. Gerombolan meneror. Tentara meneror. Semua menjadi teror.
Cuma pada kebenaran masih kita harapkan. Dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu.
27 Mei 1960
Bagiku cinta bukan perkawinan. Dulu kurang lebih 1-2 tahun yang lalu aku yakin bahwa cinta=nafsu. Tapi aku sangsi akan kebenaran itu. Aku kira ada yang disebut cinta yang suci. Tapi itu akan cemar bila kawin. Akupun telah pernah merasa jatuh simpati dengan orang-orang tertentu, dan aku yakin itu bukan nafsu.
12 Juni 1960
Masyarakat Borjuis
Ada suatu yang patut ditangisi
Aku kira kau pun tahu
Ada suatu yang patut ditangisi
Aku kira kau pun tahu
Masyarakatmu, masyarakat borjuis
Tiada kebenaran disana
Dan kalian selalu menghindarinya
Aku selalu serukan (dalam hati tentu)
“Wahai, kaum proletar sedunia”
berdoalah untuk masyarakat borjuis.”
Ada golongan yang tercampak dari kebenaran
Dan berdiri atas nilai kepalsuan
Aku kira, tiada bahagia disana
Sebab tiada kasih, kebenaran dan keindahan dalam kepalsuan
Aku akan selalu berdoa baginya
Aku kira anda tiada kenal kasih
(Nafsu tentu ada)
Apakah bernilai dengan uang
Dan padamu, kawan
Semua adalah uang, perhitungan saldo
Tiada yang indah dalam kepalsuan
(Engkau tentu yakin?)
Di sinilah, amoral ditutup oleh amoral
Di sinilah, tabir-tabir yang terlihat
Dan seringkali aku bersepeda sore-sore
Bertemu dengan gadismu (borjuis pula)
Aku begitu sedih dan kasih
Ya, Tuhan berilah mereka kebenaran
Aku tahu
Gadis cantik di mobil, bergaun abu-abu
Tapi bagiku tiada apa.
9 Agustus 1960
Tiada kebenaran disana
Dan kalian selalu menghindarinya
Aku selalu serukan (dalam hati tentu)
“Wahai, kaum proletar sedunia”
berdoalah untuk masyarakat borjuis.”
Ada golongan yang tercampak dari kebenaran
Dan berdiri atas nilai kepalsuan
Aku kira, tiada bahagia disana
Sebab tiada kasih, kebenaran dan keindahan dalam kepalsuan
Aku akan selalu berdoa baginya
Aku kira anda tiada kenal kasih
(Nafsu tentu ada)
Apakah bernilai dengan uang
Dan padamu, kawan
Semua adalah uang, perhitungan saldo
Tiada yang indah dalam kepalsuan
(Engkau tentu yakin?)
Di sinilah, amoral ditutup oleh amoral
Di sinilah, tabir-tabir yang terlihat
Dan seringkali aku bersepeda sore-sore
Bertemu dengan gadismu (borjuis pula)
Aku begitu sedih dan kasih
Ya, Tuhan berilah mereka kebenaran
Aku tahu
Gadis cantik di mobil, bergaun abu-abu
Tapi bagiku tiada apa.
9 Agustus 1960
Aku Cuma berfikir: Betapa malangnya nasib bangsa yang Cuma punya satu alternatif: totaliterisme. Moga-moga, terutama bagi Indonesia, Cuma punya satu pilihan: demokrasi.
16 Desember 1961
Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: “dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.” Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda mati. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai ini. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita.
30 Maret 1962
Kata Profesor Beerling seseorang hanya dapat hidup selama masih punya harapan-harapan. Tapi sekarang aku berfikir sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tetapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa? Aku sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis dan hope for nothing. Aku tidak percaya akan suatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa. Tetapi aku sekarang masih mau hidup. Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri.
Pandanganku yang agak murung, bahkan skeptis ini pernah dinamakan sebagai pandangan destruktif. Memang life for nothing agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan. Mungkin ada motif lain yang menggerakkannya. Barangkalia ku punya
perasaan untuk berkorban atau merasa sebagai hero dalam ketidakmengertian. Siapa tahu? Apakah rasa kepuasan akan datang bila aku berkorban? Misalnya saja selau membebankan diri dalam situasi yang paling tidak disenangi orang. Kalau begini memang dasar sikap hidupku, situasi akan agak aneh. Aku tidak pernah membuat sesuatu untuk pameran sok-sok-an. Padangan yang moralis merasa bahagia dalam kebahagiaan semua. Sekarang rasanya masih terlalu pagi untuk menganalisa diriku. Lagipula dahulu aku selalu mengejek bila orang tua-tua berkata dan percaya akan takdir. Makin lama aku membaca makin timbul kesadaran ada sesuatu kekuatan yang supernatural, irrasional dan tidak dapat dimengerti yang menguasai seluruh masyarakat dan pribadi. Dan seolah-olah manusia tidak dapat menolaknya. Apakah sense untuk mengkhianati sebagai kekuatan yang mutlak? Entah. Tapi aku kira begitu.
12 April 1962
Betapa berat dan sukarnya perjuangan menuju kebenaran. Betapa gigihnya dekaden- dekaden ilmiah bertahan. Dan betapa kita harus memahaminya. Kita dalam bertindak dengan benar memakai segi rasio dan intuisi sedang mereka hanya membakar perasaan lalu pergi begitu saja. Ya, dan kita harus merintis dan berjuang membasmi akar-akar prasangka yang jauh kedalam alam bawah sadar. Dan rumput-rumput prasangka akan mudah bertumbuh, sedang pohon kebenaran begitu sukar.
31 Desember 1962
Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau. Seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanaan itu. Tetapi mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya ialah bertindak demi tanggung jawab sosialnya bila keadaan telah mendesak.
Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
Harus mengatasi ketakutan. Akhir-akhir ini aku ingin memublikasi suatu seruan terhadap keberanian bicara, yang kalau bisa dipublikasi. Aku kira tak ada yang mau memuatnya. Kita perlu konsepsi dewasa ini. Segala usaha yang bisa kita lakukan harus dikerahkan unruk bisa melahirkan. Dan untuk aku, yang harus dilakukan adalah belajar dan mencoba mengerti persioalan-persoalan dewasa ini.
19 Februari 1963
Kita tidak boleh menggantungkan nasib kita pada konsepsi, tapi harus menghayati dan menyadarinya.
16 Maret 1964
Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak dapat menghindari diri lagi maka terjunlah. Kadang- kadang saat ini tiba, seperti dalam revolusi dahulu. Dan jika sekiranya saatnya sudah sampai aku akan terjun ke lumpur ini.
18 Januari 1966
Aneh, demonstrasi ‘liar’ ini (KAMI) mendapatkan sambutan yang luar biasa. Kira-kira lima ribu mahasiswa ikut dan secara kilat truk-truk yang lewat di salemba distop, diminta untuk mengantarkan mahasiswa ke pejambon (deparlu). Waktu itu, hatiku agak ‘tegang’ karena aku tahu bahwa demonstrasi ini adalah liar dan dalam keadaan seperti ini semuanya mungkin terjadi.
Memang karena disiplin kita bersedia untuk menderita…tetapi to the last point, apakah ABRI akan memihak rakyat yang menderita dan bersedia menujukan ujung bayonetnya pada koruptor dan kalau perlu dengan pemerintah korup ini?
24 Maret 1966
Saudara-saudara pendengar
Kita sudah muak dengan slogan-slogan kosong. Kita sudah muak, muak sekali lagi
muak. Kita tidak mau pidato-pidato yang setinggi langit yang isinya kosong belaka. Kita mau pemimpin-pemimpin yang rendah hati, yang melihat kenyataan yang riel dan
kemudian bekerja dengan keras memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Saudara-saudara pendengar Perjoangan kita yang yang sekarang ini adalah perjoangan untuk menegakkan daya kritis dari bangsa Indonesia, karena hanya dengan daya kritis, kita bisa melihat persoalan yang sebenarnya dan karena itu dapat secara tepat menanggulangi kesulitan- kesulitan kita. Ini adalah jalan menuju kearah kejayaan bangsa Indonesia. Kita tisdak lagi akan berkata bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, karena melihat di pasar, beberapa orang rakyat membeli bunga gladiol untuk Lebaran. Kita tidak akan berkata bahwa bangsa Indonesia ini makmur, karena tidak menggoreng batu. Tapi kita yang akan melihat situasi yang sebenarnya dan bekerja menanggulangi kesulitan yang sebenarnya.Saudara-saudara pendengar Musuh kita yang sebenarnya ialah kebohongan-kebohongan dalam slogan-slogan. Tapi musuh kita yang utama adalah semua orang yang menyebarkan slogan-slogan yang mau mematikan daya kritis kita. Musuh kita adalah orang-orang yang menyatakana dirinya sebagai orang yang tidak pernah salah kata-kata dan perbuatannya, musuh kita adalah orang yang tidak mau dikritik.Kita akn berjoang melawan semua ini. Akan kita tegakkan kebenaran yang terang bagi rakyat.
…satu-satunya cara yang tepat untuk membereskan keadaan negara kita adalah dengan tindakan-tindakan yang tegas. Siapa saja yang bersalah harus diadili, tanpa melihat jabatannya ataupun jasa-jasanya. Setiap koruptor harus ditangkap tanpa melihat apakah dia baju hijau, baju putih dan baju merah. Hanya dengan tindakan-tindakan yang tegas ini, rakyat dapat dipulihakan kepercayaannya dan dalam waktu yang singkat (karena kita berlomba dengan waktu), ekonomi akan mulai naik. Konsekuensi dari tindakan- tindakan tegas ini telah dipikirkan, yaitu mungkin sekali akan terjadi clash-clash fisik antara beberapa kekuatan masyarakat. Tetapi ini hanyalah jalan satu-satunya yang dilihat.
28 April 1966
Apa yang telah dilakukan selama ini barulah merupakan sebagain kecil dari pembaharuan-pembaharuan yang harus dijalankan. Kita harus mengadakan pembaharuan di dalam pandangan berfikir, dalam norma-norma sosial dan hukum, dalam sistem-sistem kepemimpinan dan pemerintahan. Pada saat ini sangat perlu dikembangkan pemikiran kritis dan sehat. Janganlah kita kembali pada zamannya di mana satu suara yang tidak seirama lantas buru-buru dicap kontara revolusi, ditunggangi dsb. Berilah kesempatan pada tiap orang untuk dapat mengemukakan pendapatnya denagn bebas dan aman, tanpa ada tekanan apapun dari siapapun juga. Cegahlah jangan sampai ada satu golongan atau pribadi yang dapat merasa cukup kuat sehingga tidak mau menerima kritik ataupun pandangan pemikiran yang lain dari apa yang dianggapnya benar. Kita harus belajar dari pengalaman-pengalaman yang kita alami dahulu. Hanya dengan adanya jaminan kebebasan mimbar dan kebebasan mengemukakan pendapat, dapatlah dicegah terulangnya zaman diktator partai, diktator pers, diltator golongan, ataupun diktator instansi dan jawatan. Pada saat dan tingkatan perjuangan generasi muda sekarang, pelaksanaan kebebasan mengemukakan pendapat ini masih harus ditingkatkan,dan dalam hal ini sangatlah tepat biala par mahasiswa dan pelajar memberikan ciontoh pada masyarakat. Perhatikanlah bahwa di kalangan pelajar, pemuda dan mahasiswa tidak ada diktator KAMI dan diktator KAPPI, tidak ada warlords dalam resdimen dan batalion-batalion mahasiswa dan pelajar. Dengan demikian dapatlah ini dicontoh oleh kalangan masyarakat lainnya, mulai dari sarjana- sarjana, buruh, tani, pengusaha sampai ke pengemudi-pengemudi beca. Bukankah perjuanga kita semua ini ditujukan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan?
26 November 1966 surat untuk Herman Lantang
Saya hanya katakan bahwa soal-soal yang saya hadapi adalah soal-soal prinsip. Saya akan maju terus sendiri.
25 Desember 1967 surat untuk Herman Lantang
Faktor lain yang membuat saya merasa “sendiri” sekarang adalah bahwa saya makin tidak dimengerti oleh kawan-kawan. Mereka mengeluh bahwa saya keras kepala. Mungkin keluhan mereka benar. But I can’t change my personality. Saya tidak mau mengubah pendirian-pendirina saya selama saya percaya bahwa pendirian saya benar. Dan saya tak mau menjadi manusia massa, yang sikap pribadinya ditentukan oleh poster, slogan dan intimidasi. Barangkali orang-orang seperti saya hanya bisa muncul dalam saat-saat krisis. Sesudah itu masyarakat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang lunak. Dan mereka tidak berfikir kreatif, terlalu pragmatis. Kadang-kadang saya takut memikirkan masa depan.Dalam setiap masyarakat yang kacau, selalu ada kecenderungan untuk mencari kambing hitam, dan ikut histeria massa. Mereka yang akan menggunakan akal sehatnya akan jadi kurban. Tetapi jika kita ikut arus massa kita akan hancur. Pada saat-saat seperti inilah manusia-manusia jujur terpanggil untuk menyelamatkan masyarakat.
30 Juli 1968
Saya telah memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafiakn. Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
20 Agustus 1968
Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis tau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya. Kadang-kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah. Apatiskah atau anarki. Moga-moga tidak menjadi kedua-duanya.
4 Juli 1967
Sampai detik ini saya tidak pernah merasa bahwa saya ekstrem. Kalau saya melihat korupsi, manipulasi, dekadensi moral dan lalu saya katakan, mereka bilang saya ekstremis. Tetapi bagi saya ada suatu hal yang pasti. Kita harus selalu jujur pada hati nurani kita, betapapun mahal harganya. Dan sebagai manusia kita dihadapkan oleh pemilihan-pemilihan yang meragukan. Sebelum kita melakukan sesuatu kita harus menanyakan diri kita sendiri. “Siapakah saya?” Dan jawaban kita menentukan pilihan kita..
Kadang-kadang kita bertanya pada diri kita sendiri: “Siapakah saya?” Apakah saya seorang manusia yangs sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas?
Saya katakan pada diri saya “Saya adalah seoarang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak boleh mengingkari ujud saya. Sebagai seorqng pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan ujud tadi.”
Karena itu saya akan selalu berani untuk terus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur pada diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia, buakan alat siapapun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk instruksi dari siapapun juga, tetapi harus dihayati secara “kreatif.” A man is as he thinks.
30 Maret 1962
Kata Profesor Beerling seseorang hanya dapat hidup selama masih punya harapan-harapan. Tapi sekarang aku berfikir sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tetapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa? Aku sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis dan hope for nothing. Aku tidak percaya akan suatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa. Tetapi aku sekarang masih mau hidup. Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri.
Pandanganku yang agak murung, bahkan skeptis ini pernah dinamakan sebagai pandangan destruktif. Memang life for nothing agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan. Mungkin ada motif lain yang menggerakkannya. Barangkalia ku punya
perasaan untuk berkorban atau merasa sebagai hero dalam ketidakmengertian. Siapa tahu? Apakah rasa kepuasan akan datang bila aku berkorban? Misalnya saja selau membebankan diri dalam situasi yang paling tidak disenangi orang. Kalau begini memang dasar sikap hidupku, situasi akan agak aneh. Aku tidak pernah membuat sesuatu untuk pameran sok-sok-an. Padangan yang moralis merasa bahagia dalam kebahagiaan semua. Sekarang rasanya masih terlalu pagi untuk menganalisa diriku. Lagipula dahulu aku selalu mengejek bila orang tua-tua berkata dan percaya akan takdir. Makin lama aku membaca makin timbul kesadaran ada sesuatu kekuatan yang supernatural, irrasional dan tidak dapat dimengerti yang menguasai seluruh masyarakat dan pribadi. Dan seolah-olah manusia tidak dapat menolaknya. Apakah sense untuk mengkhianati sebagai kekuatan yang mutlak? Entah. Tapi aku kira begitu.
12 April 1962
Betapa berat dan sukarnya perjuangan menuju kebenaran. Betapa gigihnya dekaden- dekaden ilmiah bertahan. Dan betapa kita harus memahaminya. Kita dalam bertindak dengan benar memakai segi rasio dan intuisi sedang mereka hanya membakar perasaan lalu pergi begitu saja. Ya, dan kita harus merintis dan berjuang membasmi akar-akar prasangka yang jauh kedalam alam bawah sadar. Dan rumput-rumput prasangka akan mudah bertumbuh, sedang pohon kebenaran begitu sukar.
31 Desember 1962
Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa bebas di segala arus-arus masyarakat yang kacau. Seharusnya mereka bisa berpikir tenang karena predikat kesarjanaan itu. Tetapi mereka tidak bisa terlepas dari fungsi sosialnya ialah bertindak demi tanggung jawab sosialnya bila keadaan telah mendesak.
Kelompok intelektual yang terus berdiam dalam keadaan yang mendesak telah melunturkan semua kemanusiaannya. Tidak ada indahnya (dalam arti romantik) penghukuman mereka, tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran.
Harus mengatasi ketakutan. Akhir-akhir ini aku ingin memublikasi suatu seruan terhadap keberanian bicara, yang kalau bisa dipublikasi. Aku kira tak ada yang mau memuatnya. Kita perlu konsepsi dewasa ini. Segala usaha yang bisa kita lakukan harus dikerahkan unruk bisa melahirkan. Dan untuk aku, yang harus dilakukan adalah belajar dan mencoba mengerti persioalan-persoalan dewasa ini.
19 Februari 1963
Kita tidak boleh menggantungkan nasib kita pada konsepsi, tapi harus menghayati dan menyadarinya.
16 Maret 1964
Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tetapi suatu saat di mana kita tak dapat menghindari diri lagi maka terjunlah. Kadang- kadang saat ini tiba, seperti dalam revolusi dahulu. Dan jika sekiranya saatnya sudah sampai aku akan terjun ke lumpur ini.
18 Januari 1966
Aneh, demonstrasi ‘liar’ ini (KAMI) mendapatkan sambutan yang luar biasa. Kira-kira lima ribu mahasiswa ikut dan secara kilat truk-truk yang lewat di salemba distop, diminta untuk mengantarkan mahasiswa ke pejambon (deparlu). Waktu itu, hatiku agak ‘tegang’ karena aku tahu bahwa demonstrasi ini adalah liar dan dalam keadaan seperti ini semuanya mungkin terjadi.
Memang karena disiplin kita bersedia untuk menderita…tetapi to the last point, apakah ABRI akan memihak rakyat yang menderita dan bersedia menujukan ujung bayonetnya pada koruptor dan kalau perlu dengan pemerintah korup ini?
24 Maret 1966
Saudara-saudara pendengar
Kita sudah muak dengan slogan-slogan kosong. Kita sudah muak, muak sekali lagi
muak. Kita tidak mau pidato-pidato yang setinggi langit yang isinya kosong belaka. Kita mau pemimpin-pemimpin yang rendah hati, yang melihat kenyataan yang riel dan
kemudian bekerja dengan keras memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Saudara-saudara pendengar Perjoangan kita yang yang sekarang ini adalah perjoangan untuk menegakkan daya kritis dari bangsa Indonesia, karena hanya dengan daya kritis, kita bisa melihat persoalan yang sebenarnya dan karena itu dapat secara tepat menanggulangi kesulitan- kesulitan kita. Ini adalah jalan menuju kearah kejayaan bangsa Indonesia. Kita tisdak lagi akan berkata bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, karena melihat di pasar, beberapa orang rakyat membeli bunga gladiol untuk Lebaran. Kita tidak akan berkata bahwa bangsa Indonesia ini makmur, karena tidak menggoreng batu. Tapi kita yang akan melihat situasi yang sebenarnya dan bekerja menanggulangi kesulitan yang sebenarnya.Saudara-saudara pendengar Musuh kita yang sebenarnya ialah kebohongan-kebohongan dalam slogan-slogan. Tapi musuh kita yang utama adalah semua orang yang menyebarkan slogan-slogan yang mau mematikan daya kritis kita. Musuh kita adalah orang-orang yang menyatakana dirinya sebagai orang yang tidak pernah salah kata-kata dan perbuatannya, musuh kita adalah orang yang tidak mau dikritik.Kita akn berjoang melawan semua ini. Akan kita tegakkan kebenaran yang terang bagi rakyat.
…satu-satunya cara yang tepat untuk membereskan keadaan negara kita adalah dengan tindakan-tindakan yang tegas. Siapa saja yang bersalah harus diadili, tanpa melihat jabatannya ataupun jasa-jasanya. Setiap koruptor harus ditangkap tanpa melihat apakah dia baju hijau, baju putih dan baju merah. Hanya dengan tindakan-tindakan yang tegas ini, rakyat dapat dipulihakan kepercayaannya dan dalam waktu yang singkat (karena kita berlomba dengan waktu), ekonomi akan mulai naik. Konsekuensi dari tindakan- tindakan tegas ini telah dipikirkan, yaitu mungkin sekali akan terjadi clash-clash fisik antara beberapa kekuatan masyarakat. Tetapi ini hanyalah jalan satu-satunya yang dilihat.
28 April 1966
Apa yang telah dilakukan selama ini barulah merupakan sebagain kecil dari pembaharuan-pembaharuan yang harus dijalankan. Kita harus mengadakan pembaharuan di dalam pandangan berfikir, dalam norma-norma sosial dan hukum, dalam sistem-sistem kepemimpinan dan pemerintahan. Pada saat ini sangat perlu dikembangkan pemikiran kritis dan sehat. Janganlah kita kembali pada zamannya di mana satu suara yang tidak seirama lantas buru-buru dicap kontara revolusi, ditunggangi dsb. Berilah kesempatan pada tiap orang untuk dapat mengemukakan pendapatnya denagn bebas dan aman, tanpa ada tekanan apapun dari siapapun juga. Cegahlah jangan sampai ada satu golongan atau pribadi yang dapat merasa cukup kuat sehingga tidak mau menerima kritik ataupun pandangan pemikiran yang lain dari apa yang dianggapnya benar. Kita harus belajar dari pengalaman-pengalaman yang kita alami dahulu. Hanya dengan adanya jaminan kebebasan mimbar dan kebebasan mengemukakan pendapat, dapatlah dicegah terulangnya zaman diktator partai, diktator pers, diltator golongan, ataupun diktator instansi dan jawatan. Pada saat dan tingkatan perjuangan generasi muda sekarang, pelaksanaan kebebasan mengemukakan pendapat ini masih harus ditingkatkan,dan dalam hal ini sangatlah tepat biala par mahasiswa dan pelajar memberikan ciontoh pada masyarakat. Perhatikanlah bahwa di kalangan pelajar, pemuda dan mahasiswa tidak ada diktator KAMI dan diktator KAPPI, tidak ada warlords dalam resdimen dan batalion-batalion mahasiswa dan pelajar. Dengan demikian dapatlah ini dicontoh oleh kalangan masyarakat lainnya, mulai dari sarjana- sarjana, buruh, tani, pengusaha sampai ke pengemudi-pengemudi beca. Bukankah perjuanga kita semua ini ditujukan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan?
26 November 1966 surat untuk Herman Lantang
Saya hanya katakan bahwa soal-soal yang saya hadapi adalah soal-soal prinsip. Saya akan maju terus sendiri.
25 Desember 1967 surat untuk Herman Lantang
Faktor lain yang membuat saya merasa “sendiri” sekarang adalah bahwa saya makin tidak dimengerti oleh kawan-kawan. Mereka mengeluh bahwa saya keras kepala. Mungkin keluhan mereka benar. But I can’t change my personality. Saya tidak mau mengubah pendirian-pendirina saya selama saya percaya bahwa pendirian saya benar. Dan saya tak mau menjadi manusia massa, yang sikap pribadinya ditentukan oleh poster, slogan dan intimidasi. Barangkali orang-orang seperti saya hanya bisa muncul dalam saat-saat krisis. Sesudah itu masyarakat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang lunak. Dan mereka tidak berfikir kreatif, terlalu pragmatis. Kadang-kadang saya takut memikirkan masa depan.Dalam setiap masyarakat yang kacau, selalu ada kecenderungan untuk mencari kambing hitam, dan ikut histeria massa. Mereka yang akan menggunakan akal sehatnya akan jadi kurban. Tetapi jika kita ikut arus massa kita akan hancur. Pada saat-saat seperti inilah manusia-manusia jujur terpanggil untuk menyelamatkan masyarakat.
30 Juli 1968
Saya telah memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafiakn. Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
20 Agustus 1968
Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis tau apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis, sampai batas-batas sejauh-jauhnya. Kadang-kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah. Apatiskah atau anarki. Moga-moga tidak menjadi kedua-duanya.
4 Juli 1967
Sampai detik ini saya tidak pernah merasa bahwa saya ekstrem. Kalau saya melihat korupsi, manipulasi, dekadensi moral dan lalu saya katakan, mereka bilang saya ekstremis. Tetapi bagi saya ada suatu hal yang pasti. Kita harus selalu jujur pada hati nurani kita, betapapun mahal harganya. Dan sebagai manusia kita dihadapkan oleh pemilihan-pemilihan yang meragukan. Sebelum kita melakukan sesuatu kita harus menanyakan diri kita sendiri. “Siapakah saya?” Dan jawaban kita menentukan pilihan kita..
Kadang-kadang kita bertanya pada diri kita sendiri: “Siapakah saya?” Apakah saya seorang manusia yangs sedang belajar dalam kehidupan ini dan mencoba terus menerus untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi. Walaupun pengetahuan dan pengalaman saya terbatas?
Saya katakan pada diri saya “Saya adalah seoarang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak boleh mengingkari ujud saya. Sebagai seorqng pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan ujud tadi.”
Karena itu saya akan selalu berani untuk terus terang, walaupun ada kemungkinan saya akan salah tindak. Lebih baik bertindak keliru daripada tidak bertindak karena takut salah. Kalaupun saya jujur pada diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat. Saya adalah seorang manusia, buakan alat siapapun. Kebenaran tidaklah datang dalam bentuk instruksi dari siapapun juga, tetapi harus dihayati secara “kreatif.” A man is as he thinks.
Sumber : Catatan Seorang Demonstran. Soe Hok Gie
Puisi soe
Sebuah Tanya
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra, lebih dekat.
(Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti Jakarta kita)
Apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(Haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
Manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.
Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969
—————————————————————
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mendalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”
(CSD, Selasa, 11 November 1969)
Note:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.
—————————————————————
Mandalawangi – Pangrango
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
aku datang kembali kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
aku datang kembali kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
‘terimalah dan hadapilah
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
—————————————————————
Pesan
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
—————————————————————
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983). Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia. Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie
Sumber : Catatan Seorang Demonstran. Soe hok Gie
Sumber : Catatan Seorang Demonstran. Soe hok Gie
Sabtu, 05 Februari 2011
sekilas tentang sosok "soe hok gie"
Tidak banyak yang tau sosok Soe Hok Gie. Begitulah kemudian timbul inisiatif bagi rumah produksi Miles Films untuk mengangkatnya ke layar lebar. Selain mengenang “kepahlawanan” Soe Hok Gie (SHG) yang “tidak terakui”, juga menjadikan ia sesosok ikon gigih yang patut diteladani terlepas rumah produksi itu akan mengeruk keuntungan dengan mengomresialkan sosok ini.
Soe Hok Gie tampaknya nama itu masih sangat asing di telinga kita, bahkan mungkin ada yang tak pernah mendengar nama SHG. Saya sendiri juga bukan orang yang tahu betul siapa Soe Hok Gie, namanya mungkin kalah pamor daripada bintang" film atau vokalis band.. Di luar negeri sudah banyak film-film sejarah atau tokoh revolusioner seperti Che Guevara atau Kingdom of Heaven beberapa waktu lalu yang jadi perbincangan. Film itu mengangkat sejarah perang salib antara Kristen dan Islam.
Langganan:
Postingan (Atom)


